cerita
yooo. Hehehehe kembali lagi sama mimin nori nih..
kali ini minor akan sedikit kasih coretan eh cerita maksudnya #plak
bukan minor sih yang mengarang tapi orang terdekat minor, yang jelas minor siying bingit sama si doi #jones-kumat
yoo langsung aja di baca :)
Senja
Genre : School Romance
Cast : Park
Chanyeol
Kang Yu Hyeon
Min Yoongi
Author : NanaShina
Category
: OneShoot
Author
note : Ini adalah cerita lain dari perebutan cinta dari Chanyeol (EXO) dan Suga
(BTS). Selamat membaca. Mian kalau
jelek atau susah dimengerti. Karena aku membuat sudut pandang dari dua sisi. Gomawo
sudah menyempatkan diri untuk memberi kritik, saran dan komentar.
Hari ini cukup terik untuk membuat tubuhku mengucurkan
keringat. Jam olahraga yang tidak tepat membuat teman-temanku sering mengeluh.
Musim panas yang memang panas ini cukup menggangguku. Setiap aku dan
teman-temanku bermain sepak bola, tidak ada seorang pun yang tidak mengeluh
tentang matahari yang terlalu menunjukkan kekuatannya. Berbeda dengan anak
laki-laki, anak perempuan lebih suka bermain lempar bola di aula gedung. Mereka
juga lebih suka berenang jika kolam renang dibuka untuk mereka.
“Suga!”
Aku menoleh pada sumber suara. Terlihat seorang namja
melambaikan tangan. Aku segera menghampirinya menuju tepi lapangan.
“Mwo?”tanyaku malas.
“Yu Hyeon pingsan.”
“Mwo!”
Aku langsung berlari menuju aula. Ternyata Yu Hyeon telah
dibawa ke UKS oleh pak Kim dan beberapa teman perempuan. Aku segera kembali ke
lapangan bersama sahabatku itu. Di sisi lain, kulihat Baekhyun melihatku dengan
tatapan elang. Aku tahu dia tidak suka sikapku saat ini.
“Kenapa kamu tidak menghampirinya?”tanya sahabatku.
“Di UKS?”
“He,em.”
“Jimin, apa kamu gila?”tanyaku tidak penting.
“Wae? Kamu sudah menyukainya selama 2 tahun. Apa kamu hanya
ingin melihat dia dari jauh seperti ini?”
“Sudahlah. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya. Tahun
lalu di kehilangan seseorang yang disayanginya. Lagipula Baekhyun tidak suka
melihat sikapku yang terus memperhatikan Yu Hyeon.”
“Itu sudah lama. Kenapa kamu tidak mencoba untuk menghiburnya.
Membuat dia lupa dengan namja masa lalunya dan menerimamu. Untuk Baekhyun, dia
hanya berusaha melindungi mantan kekasih sahabatnya. Jika Yu Hyeon sudah
menyukaimu, pasti dia juga tidak berkutik.”
“Tidak semudah itu, Jimin.”
“Wae?”
Aku menhela napas dan menatap Jimin dengan tatapan serius.
“Karena Yu Hyeon adalah perempuan yang setia.”
Jimin mengamatiku dan ia tidak bergeming. Ia tahu kapan
aku bisa didebat dan kapan aku mengatakan
keputusan akhir. Aku tahu Jimin khawatir sekaligus tidak sabar. Aku memang
mengenaskan. Mecintai seorang yeoja yang telah dimiliki oleh orang lain. Saat
dia tidak dimiliki oleh siapapun, malah yeoja itu sendiri yang mengikat dirinya
dengan bayangan masa lalu. Kini aku berjalan di tempat. Tidak mampu mundur
semudah dulu saat aku tidak mengenalnya dan tidak mudah maju semudah jika aku
menjadi namja idamannya.
S
Perempuan itu bernama Yu Hyeon. Ia adalah teman sekelasku
sejak awal masuk sekolah. Dia termasuk blesteran. Ibunya seorang oriental dan
ayahnya seorang bersuku sunda dari Indonesia. Ayahnya membuka kedai makanan
Indonesia tidak jauh dari rumahku. Dia gadis yang istimewa. Berbeda dengan
teman perempuanku yang lainnya. Dia berkerudung. Dia perempuan yang baik dan
sopan. Dia juga pandai dalam pelajaran sekolah. Saat ini dia menjabat sebagai
ketua kelas. Banyak lelaki yang tertarik padanya. Namun, dia telah memiliki
penjaga setia. Pacarnya.
Pasangan yang sangat serasi bahkan idaman. Pacar Yu Hyeon
adalah ketua OSIS di tempatku. Dia adalah idola utama di sekolah. Nama namja
yang beruntung itu adalah Park Chanyeol. Chanyeol dan Yu Hyeon beda kelas.
Chanyeol di kelas Bahasa sementara Yu Hyeon (termasuk aku) di kelas Sejarah.
Chanyeol dan Yu Hyeon sudah berpacaran selama dua tahun. Mereka satu sekolah
sebelumnya, karena itu, mereka sengaja satu sekolah juga saat ini.
Aku sadar, aku sudah jatuh cinta pada Yu Hyeon sejak pertama
kali bertemu. Sebelum aku tahu dia sudah memiliki Chanyeol. Sebelum aku
mengetahui namanya, aku sudah mencintainya karena sebuah kejadian membingungkan
di gerbang sekolah. Saat itu aku dan dia adalah siswa baru di sekolah itu. Dia
berjalan kaki menuju sekolah sementara aku membawa sepeda.
“Sepeda yang bagus.”ujarnya sembari tersenyum.
“Hah?”
“Warnanya jingga, seperti senja.”
“Mwo?”
Dia tersenyum lagi. Lalu berjalan menjauhiku. Namun, sebelum
dia benar-benar menjauh, dia sempat berteriak padaku.
“Suatu saat nanti, aku ingin menaiki sepeda manis itu!”
Dia benar-benar menjauh sekarang. Bagaimana dia bisa berkata
seperti itu tanpa mengenalku. Bahkan yang terparah, dia bisa membuat jantungku
berdegup hanya dengan dua kalimat yang terlontar dari mulutnya. Tidak
membutuhkan waktu yang lama, aku tahu nama yeoja itu. Kami menjadi teman
sekelas dan segera kuketahui dia telah memiliki namjachingu. Namun, aku
terlanjur menyukainya. Hingga suatu ketika keinginan Yu Hyeon terkabul.
Suatu sore di semester kedua, aku mengantar Yu Hyeon pulang
dengan sepedaku. Saat itu aku usai berlatih sepak bola dan dia selesai menemui
pak Kim selaku wali kelas kami. Mentari menyiratkan warna jingga yang indah dan
saat itulah Yu Hyeon menemuiku di tempat parkir.
“Yoongi.”
Aku masih tidak menyangka Yu Hyeon menemuiku. Aku terdiam,
menunggu dia berucap.
“Bolehkah aku pulang bersamamu?”
Aku masih bungkam.
“Mianhae, aku tidak bermaksud membuatmu repot. Tapi bus
terakhir jam lima sore. Menurutku itu terlalu,,,”
“Haja.”
Satu kata terucap dan aku sangat bersyukur aku masih terlihat
keren di depannya. Dia tidak tahu hatiku berdegup tidak keruan sekarang.
Kuharap yeoja ini tidak peka, sehingga aku tidak kecolongan hari ini. Rumahku
hanya berjarak satu blok saja dari rumah Yu Hyeon. Kami sering bertemu, tetapi
aku tidak jarang juga bertemu dengan Chanyeol, namjachingunya.
“Yoongi.”panggil Yu Hyeon.
“Mwo?”tanyaku sembari fokus pada jalan.
“Akhirnya aku bisa menaiki sepeda ini juga.”
“Kamu ingin pulang bersamaku hanya karena sepeda ini?”
“Aniyo, jangan salah paham.”
“Lalu?”
“Entahlah, aku merasa ada bagian senja yang melekat padamu.”
“Maksudnya?”
“Sepeda warna jingga, gitar warna jingga kecokelatan, dan
sepatu olahragamu yang berwarna jingga hitam. Apakah kamu suka jingga?”
“Ehm, aku tidak pernah memperhatikan hal itu. Aku suka semua
warna, tapi aku memang memiliki banyak barang berwarna jingga. Waeyo?”
“Ehm, aniyo, hehe.”
Lima belas menit berlalu dan aku tiba di depan rumah Yu Hyeon.
Ibunya yang sedang menyiram bunga langsung mengetahui kedatanganku. Yu Hyeon
sangat mirip dengan ibunya. Mereka sama-sama berkerudung. Namun, ibu Yu Hyeon
memiliki kulit lebih putih dan wajah bulat. Sementara Yu Hyeon memiliki kulit
kekuningan dan wajah tirus.
“Selamat sore.”sapaku.
‘Selamat sore. Senja, siapa dia?”
Senja? Mengapa ibu Yu Hyeon memanggil Yu Hyeon dengan senja?
“Chingu, Eomma. Hari ini Chanyeol oppa ada les piano. Aku
harus mengurus beberapa berkas dan terpaksa pulang sore. Dia teman sekelasku
dan kebetulan rumahnya searah.”
“Ah, begitu. Siapa namamu? Mau masuk dulu?”
“Nama saya Yoongi, Min Yoongi. Tidak usah repot-repot Yu Hyeon
eomma. Sudah sore, saya pamit pulang.”
“Terima kasih sudah mengantar Senja pulang.”
“Senja?”
“Senja adalah nama Yu Hyeon yang diberikan oleh Appa-nya.
Karena itu sedikit aneh, kami memakai nama itu hanya untuk lingkup keluarga
saja. Senja itu berasal dari bahasa Indonesia.”
Sesaat aku menatap Yu Hyeon yang tersenyum. Sebelum aku
benar-benar pergi, Yu Hyeon mengatakan sesuatu yang menurutku istimewa.
“Appa sangat suka senja. Karena itu ia menamaiku Senja. Senja
adalah suatu peristiwa yang indah, dimana matahari beranjak dari sisi langit
dan membuat semuanya terlihat mengkilat tapi juga remang.”
“Seperti saat ini?”
“Ne.”
Sejak saat itu aku tahu mengapa Yu Hyeon mengamati segala
benda yang berwarna jingga. Karena dia adalah jingga. Karena dia adalah senja
dan aku adalah pemujanya.
S
“Oppa!”
Aku langsung berlari untuk membuka gerbang dan menghampirinya.
Kulihat dia tersenyum dan melambaikan tangan. Dia terlihat menawan dengan jaket
musim dinginnya yang tebal. Warna biru langit berpadu dengan hitam sangat cocok
untuk membalut tubuhnya. Sementara aku memakai jaket dan kerudung warna cokelat
muda saat ini. Dia langsung mengelus kepalaku dan aku tertawa.
“Sepertinya hari ini kamu sangat bahagia.”
“Tentu saja, hari ini turun salju pertama dan aku bersama Oppa
sekarang.”
“Hemz, kita beruntung.”
“Beruntung?”
“Ulang tahunmu tepat dengan salju pertama turun dan aku di
sini. Bersamamu.”
Aku tersenyum malu.
“Bukankah kita akan mengambil kue dan membeli beberapa cemilan
saja hari ini?”tanya Chanyeol oppa sembari tersenyum.
“Eh?”tanyaku tidak mengerti.
Hari ini adalah hari istimewaku. Apakah Chanyeol oppa tidak
mempersiapkan sesuatu untukku?
“Mwo?”
“Ehm, aniyo.”ucapku mencoba tenang.
“Kamu ingin hadiah?”
“Jika Chanyeol oppa tidak memilikinya. Aku tidak apa-apa.”ucapku
sembari tersenyum.
“Haha, kamu khawatir?”
“Aniyo.”jawabku mulai kesal.
Chanyeol oppa tersenyum
dan mengambil sebuah kotak dari saku jaketnya. Terlihat sebuah box kecil
berwarna jingga dengan pita hitam mungil di sisinya. Aku tersenyum dan
meraihnya. Namun, Chanyeol oppa segera menarik box itu dan dimasukkan kembali
ke saku.
“Wae?”
“Kita harus mengambil kue dan membeli cemilan dulu.”
Aku mengangguk dan segera naik di tempat duduk belakang. Aku
meraih segenggam jaket Chanyeol oppa untuk berpegangan.
“Kamu kedinginan?”
“Aniyo, gwenchanayo. Oppa?”
“Ani, aku sedang mengayuh sepeda dan suhu tubuhku naik, aku
baik-baik saja.”
Aku sedikit memiringkan wajahku dan mencoba bersandar di
pundaknya. Aku sangat bahagia. Hampir dua tahun aku menjalin cinta dengan
Chanyeol oppa. Seorang namja yang sangat baik dan pengertian. Dia menerima
perbedaan keyakinan kami dengan sangat baik. Dia tidak protes saat aku
memberinya peci dan sarung khas Indonesia yang sering dipakai umat islam
beribadah. Dia menerimanya dengan senang hati. Natal tahun lalu, ia juga
memberiku hadiah meskipun aku tidak memberikan apapun padanya. Dia bilang, dia
ingin bersamaku dengan perbedaan yang ada. Jika pada akhirnya kita akan
bersama, Chanyeol oppa berjanji akan menjagaku dan meminta izin Appa dengan
baik-baik.
“Eomma masak apa hari ini?”tanya Chanyeol oppa sembari mengayuh
sepeda.
“Eomma? Bukan Eomma saja yang masak, tapi aku. Aku dan Eomma
masak sayur asem, bulgogi, ayam goreng, dan nasi kuning Oppa.”
“Nasi kuning seperti tahun lalu?”
“Ne.”
“Wah, ayo kita bergegas. Aku tidak sabar merasakan nasi kuning
dicampur bulgogi.”
Aku tertawa. Chanyeol oppa memang lelaki yang istimewa. Dia
benar-benar menerima keluargaku dengan tangan terbuka. Pernah suatu ketika
Chanyeol oppa tersedak saat meminum bajigur buatan Appa. Namun, dia tidak
protes, malah dia mencoba meminumnya lagi dengan pelan dan mencari keistimewaan
dari minuman itu.
“Nah, kita sudah sampai.”
Aku turun dari sepeda dan mendekati pintu masuk toko kue.
Namun, Chanyeol oppa tidak mengikutiku.
“Oppa tidak masuk?”
“Aku ingin ke supermarket di sebelah untuk membeli cemilan
lainnya. Kamu ambil kue dan aku akan segera kembali.”
“Arasseo.”
Aku tersenyum dan segera memasuki toko. Seorang pelayan sudah
menunggu. Akupun segera meraih kuitansi dan menyerahkan pada pelayan tersebut.
Aku menunggu beberapa menit dan pelayan itu mendekatiku sembari membawa kotak
berisi kue cokelat yang ditaburi cokelat putih dan beberapa buah ceri. Setelah
aku mengambil kue pesanan, aku segera keluar dari toko dan menunggu Chanyeol
oppa.
“Chogiyo.”ucapku.
Seorang di sebelahku menoleh padaku.
“Jalan di seberang sana, ehm, kenapa ramai sekali? Apakah ada
kecelakaan?”
“Ne, seorang pemuda tewas di tempat. Seorang pengemudi mabuk
menabrak sepeda pemuda itu hingga remuk.”
Aku langsung berpikir tentang Chanyeol oppa. Tanpa mengatakan
apapun aku langsung menuju seberang jalan. Kerumunan orang semakin banyak
dengan datangnya beberapa poilisi. Aku membuka jalan menuju tengah kerumunan
dan kudapati Chanyeol oppa tergeletak dengan darah yang mengalir deras.
“Oppa!”
Aku langsung menghambur pada jasadnya. Semua orang memandangku
dengan raut wajah penuh duka dan kasihan. Aku tidak memperhatikan siapapun
lagi. Aku hanya ingin Chanyeol oppa membuka matanya lagi. Namun, semakin
kuguncang tubuhnya, semakin aku sadar bahwa nyawanya telah melayang. Dia
benar-benar tidak ada di sini lagi. Aku telah ditinggalkan.
“Oppa, jebal. Hajima, Oppa. Oppa!”
Aku terus menangis. Kerumunan mulai menghilang digantikan oleh
polisi dan ambulans. Beberapa polisi membawa pengemudi mabuk itu ke kantor
polisi untuk diitrogasi. Sementara beberapa petugas polisi dan ambulans merebut
jasad Chanyeol oppa dariku untuk dibawa ke rumah sakit.
“Ottoke? Appa. Eomma.”
Aku terus menangis. Hingga aku sadar harus menghubungi orang
tua Chanyeol oppa. Setelah itu aku menghubungi Appa dan memintanya untuk menjemputku.
Di sisi kepanikanku, aku melihat kotak yang berisi kue. Kue yang kupilih
bersama dengan Chanyeol oppa kini tidak berguna. Aku benci ulang tahunku, aku
benci salju pertama di musim dingin, dan aku benci hari kematian Chanyeol oppa.
S
“Saeng il cukkae hamnida, saeng il cukkae hamnida. Saranghaeyo
Yu Hyeon, saeng il cukkae hamnida.”
Aku tertawa melihat ketiga sahabatku yang datang dengan kue
ulang tahun. Seusai mata pelajaran terakhir, mereka melarangku untuk pulang
terlebih dahulu. Ternyata mereka ingin memberi kejutan ulang tahun untukku.
Setahun telah berlalu dan aku telah berusaha. Selama setahun
ini aku mencoba mengikhlaskan Chanyeol oppa yang telah pergi. Aku telah kembali
seperti Yu Hyeon yang dulu. Namun, untuk menerima lelaki lain, aku belum mampu.
Kenangan Chanyeol oppa masih tertanam begitu dalam di hatiku.
Kenangan yang begitu indah, meski tak semuanya bahagia. Aku sering
ditinggalkannya karena les piano dan biola. Aku juga sering mendapatkan surat
kaleng dari yeoja yang tidak terima bahwa aku adalah yeojachingu-nya. Namun,
aku juga pernah melihatnya begitu sabar menungguku yang harus mengurus acara
pentas seni hingga larut malam. Aku juga pernah mendapatkan sebuah pengakuan
cinta di hadapan seluruh siswa ketika ada seorang yeoja yang mengolok-olokku
sebagai perempuan yang kegatelan.
Pernah beberapa hari aku tidak berkomunikasi dengannya dan
tidak bertemu dengannya dimana pun. Saat itu, seorang yeoja berkata bahwa ia
telah menerima pengakuan cinta dari Chanyeol oppa dan dia memamerkan sebuah bunga
mawar pada seluruh siswa. Aku hanya diam, aku tidak menanggapi tetapi aku
merasa hatiku cukup kecewa. Benarkah Chanyeol oppa melakukan hal itu? Setauku
dia bukan namja yang suka mempermainkan hati perempuan meskipun ia memang
terkenal di antara mereka.
Hari itu aku tidak fokus dengan mata pelajaran yang ada. Aku
hanya melamun dan menatap luar jendela dengan malas.
“Senja!”
Aku langsung menoleh pada sumber suara. Ternyata Chanyeol oppa
berada di lapangan dan melompat-lompat untuk menarik perhatianku. Aku hanya
menatapnya dan dia menyuruhku untuk segera turun. Aku meminta izin keluar kelas
dan segera menemuinya. Chanyeol oppa dengan tenang menghampiriku yang ada di
pinggir lapangan.
“Senjaku sayang.”sapanya manja.
Aku diam.
“Kamu percaya dengan rumor yang ada?”tanya Chanyeol oppa mulai
serius.
“Entahlah. Aku mencoba tenang, tetapi aku merasa sedikit
kecewa. Aku terlihat seperti perempuan yang dicampakkan dan perempuan barumu
datang untuk meremukkan hatiku. Oppa.”gumamku pelan.
“Apa saja yang kamu dengar tentang rumor itu?”
“Kamu memberi yeoja itu bunga mawar. Kamu juga menyatakan
cinta seusai rapat OSIS seminggu yang lalu. Apakah kamu harus tanya hal itu
padaku? Seluruh sekolah sudah tau dan kenapa kamu harus tanya itu?”
“Mengapa kamu tidak memikirkan rumor itu dengan baik.”
“Maksudnya?”
“Kamu harus mengingat-ingat sesuatu. Bandingkan pernyataan
cintaku padamu dan rumor yang disebar oleh yeoja itu.”
Sesaat aku memutar waktu di pikiranku. Chanyeol oppa
menyatakan cinta padaku bukan dengan setangkai mawar. Namun, dengan boneka
Rilakkuma yang memeluk hati bertuliskan Love You. Dia juga tidak menyatakannya
di tempat sepi. Dia menyatakannya di depan teman-teman satu angkatan saat acara
camping.
“Kamu ingat sesuatu?”
“Ne, rumor itu berbeda dengan yang Oppa lakukan padaku.”ucapku
pelan.
“Aku tidak suka bunga mawar, Senja. Mengapa aku harus
menyatakan cinta dengan bunga mawar? Mengapa harus seusai rapat? Sementara jika
aku memang suka dia,aku akan menyatakan cinta saat rapat itu juga.”
Aku merasa bodoh karena percaya pada rumor yang telah menyebar.
Aku menahan senyum dan menatap mata Chanyeol oppa.
“Mianhae, Oppa. Aku seharusnya percaya pada Oppa.”ucapku
sembari menunduk.
“Aku juga seharusnya minta maaf, Senja. Karena terlalu sibuk
mengurus Study Tour bulan depan, aku tidak memperhatikan berita di sekolah dan
kukira kamu baik-baik saja.”
Sejak itu, Chanyeol oppa lebih memperhatikanku. Kami berangkat
dan pulang sekolah bersama. Jika tidak, pasti Chanyeol oppa akan melakukan
sesuatu yang setidaknya memperlihatkan bahwa aku dan dia sedang dalam keadaan
baik-baik saja.
“Yu Hyeon!”ujar Shin Soo membuyarkan lamunan masa laluku.
“Ne?”
“Ayo tiup lilinnya.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Gomawo. Aku sangat bahagia melihat semua ini. Kalian begitu
perhatian padaku.”
“Tentu saja. Mana mungkin kami melupakan hari ulang tahunmu
dan hari kemati,,,”
“Hana!”bentak Gyu Won.
Gyu Won menggenggam tangan Hana dan memelototinya.
“Gwenchana, Gyu Won.”ujarku sembari tersenyum.
Shin Soo langsung mengambil pisau plastik dan diberikannya
padaku. Aku pun memotong kue dan memberikannya pada ketiga sahabatku. Setelah
itu, kue yang tersisa kubungkus dan kubawa pulang dengan beberapa hadiah yang
sahabatku berikan.
“Yu Hyeon, kamu tahu, Hana sedang dekat dengan Jeongkook,
tetangga si Jimin anak baset itu.”ujar Shin Soo.
“Jeongkook? Anak sepak bola?”
“Iya, dia sering titip salam padaku untuk Hana. Hah, dia anak
yang sangat manis.”
“Sayangnya dia adik kelas.”ujar Gyu Won.
“Apa salahnya adik kelas?”protes Hana.
“Ne, tidak ada salahnya menyukai Jeongkook. Dia anak yang
baik. Iya kan Hana?”ujarku sembari tersenyum.
“Haha, Yu Hyeon benar-benar mengerti aku.”
Kami bersenda gurau sembari berjalan di koridor kelas lantas
dua. Saat kami ingin menuruni tangga, terlihat seorang namja menunggu kedatagan
kami. Dia bersandar dengan pasrah pada tembok tangga lantai dua. Saat melihatku
dan sahabatku, namja itu langsung menegakkan tubuhnya. Seperti mengetahui apa
yang harus dilakukan, sahabatku langsung menyingkir dan pulang duluan. Aku
hanya diam dan menunggu apa yang terjadi.
S
Hatiku berdegup. Kugerakkan kakiku beberapa langkah untuk
menuju Yu Hyeon. Dia terdiam di ujung tangga lantai dua dan aku mencoba tenang.
Memang, aku tidak akan mengungkapkan rasa cintaku padanya setelah setengah
tahun lalu aku berusaha mati-matian agar dia menerima cintaku. Kini aku tidak
sanggup membebani yeoja rapuh itu lagi. Aku tahu dia telah bangkit dari
keterpurukan yang menyakitkan hati. Namun, aku tahu dia terjebak oleh nostalgia
yang ia rekam dari masa lalunya bersama Chanyeol.
“Senja.”ucapku tenang.
Yu Hyeon mendongakkan kepala. Terlihat raut wajah terkejut sekaligus
tidak enak hati yang ditunjukkan padaku. Aku yakin nama kecilnya itu tidak
pernah terlontar dari namja selain Chanyeol. Kini aku di hadapannya, berusaha
sedekat mungkin dengannya, tapi kuurungkan diri untuk meraihnya.
“Ne.”
“Saengil cukkae, Senja.”
Kuarahkan sebuah kotak kecil berwarna jingga dengan pita hitam
kecil di sisinya. Namun, bukannya segera mengambilnya, ia malah mengamati kotak
hadiahku itu.
“Mian, mungkin aku tidak pantas melakukan hal ini.”ujarku
mencoba mencairkan suasana.
Yu Hyeon tetap diam. Ia tidak melepaskan pandangnya dari kotak
hadiahku. Namun, ia tidak meraihnya. Beberapa saat kemudian lengang dan kulihat
lelehan air mata di pipinya.
“Mianhae, chongmal mianhae. Aku tidak akan memanggilmu Senja
lagi, Yu Hyeon. Mianhae, aku terlalu berusaha menjadi pengganti Chanyeol hingga
menyakitimu dan membebanimu sampai seperti ini. Jangan menangis, aku mohon.”
Yu Hyeon menghapus air matanya dan dia malah tersenyum. Sesaat
aku linglung. Apa yang sebenarnya terjadi di sini. Aku tidak bisa
mengidentifikasi situasi yang menjelma di ruang ini.
“Yoongi, aku baik-baik saja. Aku menangis bukan karenamu, tapi
karena aku ingat hadiah terakhir dari Chanyeol oppa untukku. Kotak hadiah itu sama persis. Chanyeol oppa
menghadiahkanku sebuah kalung dengan liontin mentari warna senja. Aku terbawa
suasana. Maafkan aku. Akulah orang sering membebanimu. Maaf belum bisa menerima
kebaikanmu sebagai seseorang yang lebih dari teman.”
Air mata Yu Hyeon mengalir kembali. Aku sangat ingin menghapus
air mata itu. Namun, aku tidak ingin membuat dia merasa tidak nyaman. Akhirnya
aku tidak melakukan apa yang diinginkan hatiku.
“Gwenchana, aku tahu kamu belum bisa melupakan Chanyeol. Tapi,
aku harap kamu mau menerima hadiah ini. Ehm, aku yakin isinya tidak sama,
hehe.”ujarku pasrah.
Yu Hyeon mencoba tersenyum dan meraih hadiah kecilku.
“Aku pergi dulu. Terima kasih untuk hadiahnya.”
“Ne, semoga kamu suka hadiahku.”
Yu Hyeon menuruni tangga dan mulai berbelok. Namun, sebelum ia
benar-benar menghilang, ia berhenti dan berbalik untuk menatapku.
“Suga!”
“Ne.”ujarku yang terkejut.
Untuk pertama kalinya Yu Hyeon memanggilku dengan nama
punggungku dalam sepak bola. Perasaanku mulai campur aduk dan tumpah.
“Aku tidak yakin bisa melupakan Chanyeol oppa dengan cepat.
Tapi, kuharap kamu belum memiliki yeojachingu saat itu. Karena aku yakin, kamu
adalah orang pertama yang kucari saat aku tidak terjebak dalam nostalgia.”
Yu Hyeon berbalik dan meneruskan jalannya. Dia menghilang dan
aku masih berdiri memikirkan segalanya. Jika Yu Hyeon membuka hadiah itu, dia
pasti akan tahu bahwa aku akan menunggunya sampai kapanpun. Kotak hadiah itu
berisi sebuah gantungan kunci berbentuk merpati dan secarik kertas yang berisi
puisi tentang janji merpati. Aku tahu menunggu adalah sebuah hal yang berada di
tengah-tengah rindu dan sendu. Rasa ragu dan ketidakpastian akan selalu
berputar menggumuli perasaan yang sekarat. Namun, aku yakin, Senja akan
menerimaku suatu saat nanti. Karena Senja dan aku telah terikat sebelum kami
saling melempar janji. Sampai kapanpun, dia adalah senja dan aku adalah
pemujanya.
TAMAT
heheheh
panjang juga ya....
oh
ya sedikit catatan nih boleh di copas tapi jngan lupa ijin dlu sama autornya :)
klo
mau tanya lbih lanjut atau mau kepoin autornya mimin udah kasih intagramnya kok
:)
sekian
dulu dari minor sampai jumpa di postingan selanjutnya
^_^ ^_^
^_^ ^_^

Posting Komentar untuk "cerita "